Riview Buku : Can’t Even: How Millennials Became the Burnout Generation

Sebagai seorang sarjana, kita harus menambah wawasan dalam ilmu pengetahuan, salah satunya dengan banyak membaca buku.

Can’t Even: How Millennials Became the Burnout Generation merupakan salah satu buku yang tepat dibaca oleh mahasiswa muda, ataupun sarjana.

buku ini ditulis oleh : Anne Helen Petersen

Berikut ini resensi atau riview singkatnya :

“The modern Millennial, for the most part, views adulthood as a series of actions, as opposed to a state of being. Adulting therefore becomes a verb.”

Pernah penasaran mengapa generasi yang seangkatan denganku ini (lahir tahun 90an) kok sering merasa burnout? Di manakah letak kesalahannya?

Aku secara tidak sengaja membaca twit The Guardian yang mengunggah sedikit ulasan tentang buku ini. Dengan judul yang cukup membuatku penasaran, rasanya bisa dicoba. Yang awalnya hanya iseng malah bisa dihabiskan.

Can’t Even berisi tulisan-tulisan esai semi jurnalistik dari Anne Helen Petersen. Ia secara spesifik sejak laman Introduction mengatakan bahwa tulisannya berpaku pada populasi anak muda di Amerika Serikat. Maka, tidak bisa disamaratakan dengan perilaku anak muda di luar negara itu. Bagi Petersen, hal-hal yang ia lihat selama ini yang terjadi di kalangan anak muda (baik yang baru lulus ataupun yang sudah berkarir) menandakan adanya stigma dan ekspektasi yang dibebankan kepada masyarakat. Padahal, zamannya sudah berubah. Teknologi saja sudah berkembang pesat, namun mengapa stigma dan ekspektasi itu tetap saja sama?

Burnout, after all, is a symptom of living in our modern capitalist society.

Bagi Petersen, burnout yang terjadi adalah dampak dari hidup di masyarakat modern yang kapitalis. Pokoknya, kalau tidak produktif berarti tidak patut mendapatkan imbalan (hmm, rasanya familiar dengan apa yang terjadi di sini, ya?). Tekanan-tekanan semacam itu yang membuat anak muda merasa bersalah apabila mereka mengambil jeda sejenak. Atau sengaja mengambil cuti untuk tidak melakukan apa-apa.

Can’t Even menyorot pula bagaimana anak muda ini dibesarkan oleh para orangtua yang berharap kalau mereka bisa berkuliah di kampus yang termasuk Ivy League tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial agar mereka mudah mendapatkan pekerjaan bergengsi di Big 4 (BCG, PwC, E&Y, KPMG–sungguh, familiar dengan kondisi di Indonesia….). Belum lagi kehadiran beragam perangkat elektronik beserta aplikasinya yang seakan-akan mengglorifikasi kerja keras. Sesuatu yang dianggap sebagai hal yang wajar hingga saat ini.

But the social media platform most overly responsible for burnout is Instagram

Bila diperhatikan, buku ini memang seperti menyalahkan kapitalisme sebagai penyebab adanya generasi burnout. Tetapi itu semua bisa dijelaskan oleh Anne Helen Petersen dengan baik. Bahkan beberapa hal yang kita tidak sadari dapat ditangkap olehnya. Bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit. Ia tidak takut untuk mengatakan apa yang ada di benaknya.

Sepanjang buku ini, Petersen menyebutkan beragam referensi yang bisa kita telusur lebih jauh. Dari banyaknya referensi itu, aku paling ingat Trick Mirror: Reflections on Self-Delusion dan How to Do Nothing: Resisting the Attention Economy.

Silakan baca buku ini apabila ingin melihat perspektif lain terkait “kerja keras bagai kuda.”

Tinggalkan komentar